Allah itu Ada, Anakku

Judul  buku    : Yuk! Jadi Abi Umi Nomor Satu Dunia Akherat
Penulis           : Purwanto Abd Ghaffar
Tahun             : 2011
Penerbit        : Iqra Kreativ

Pada hakikatnya hidup di dunia hanya sementara hingga ia akan kembali ke asalnya yakni kehadapan Allah SWT. Manusia sejak Nabi Adam hingga saat ini memiliki tugas khusus dari Allah sebagai khalifah di muka bumi yakni beribadah hanya kepada Allah. Fastabiqul Khairat ( berlomba-lomba dalam kebaikan ) adalah sebuah kompetisi panjang sepanjang usia manusia untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi amal. Pundi-pundi tersebut akan digunakan sebagai bekal dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah.

Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa ada tiga jenis investasi yang dapat memberikan pundi-pundi amal kita terus mengalir baik di dunia maupun di akhirat. Ketiganya ialah amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh. Saat ini kita yang sedang mejalankan peran sebagai orangtua tentu saja memiliki peluang untuk mendapatkan investasi sepanjang hayat dunia akhirat tersebut.

Oleh karena itu Purwanto menuliskan pada halaman 23 – 24, semakin besar modal akan semakin besar pula keuntungan yang didapat. Maka didiklah anak dengan serius, korbankan yang bisa dikorbankan dan curahkan seluruh waktu untuk anak tercinta. Itulah modal yang bisa kita berikan untuk investasi jangka panjang ini.

Hal pertama yang diajarkan Rasulullah kepada manusia adalah penanaman akhlak dengan meyakini dan mengimani bahwa Allah itu Esa. Banyak diantara kita yang sedari kecil memeluk agama Islam karena perintah dari orangtua. Mau tidak mau tanpa ada penjelasan yang terang kita dituntut untuk patuh begitu saja. Jika anak menuntut penjelasan alasan mereka memeluk Islam, biasanya yang terlontar dari ucapan orangtua hanyalah doktrin yang bersifat mengambang. Pada halaman 113, Purwanto menceritakan pengalamannya saat menerapkan pemahaman kepada anaknya iliyyina Maria Az Zahra bahwa Allah itu ada. Ia melakukan percobaan dengan memasukkan sesendok gula ke dalam gelas. Ia bertanya kepada anaknya, apa yang ada di dalam gelas saat ini? Anaknya pun menjawab bahwa itu adalah gula. Lalu Purwanto menuangkan air putih ke dalam gelas tersebut dan mengaduknya dengan sendok. Purwanto lantas menyampaikan kepada putrinya bahwa gula di dalam gelas itu tidak ada. ILiyana yang yakin bahwa tadi ada gula di dalam gelas bersikukuh bahwa di dalamnya ada gula. Oleh ayahnya dijawab dengan berpura-pura ngeyel bahwa tidak ada gula di dalam gelas. Sang anak tetap teguh dengan pendiriannya bahkan sekarang ia menawarkan kepada ayahnya untuk minum air dalam gelas tersebut.

Dari sinilah kemudian Purwanto menjelaskan kepada anaknya bahwa keberadaan Allah berlaku seperti hlanya percobaan gula dalam air.  Allah TUhan kita, kita tidak dapat melihat-Nya, tetapi kita tahu Dia ada.

Dari mana kita tahu bahwa Allah itu ada? Dari rasa … dari ciptaan-Nya. Ia pun bercerita kembali untuk meneguhkan hati sang anak bahwa kita bias merasakan detak jantung dan itu membuktikan bahwa jantung ada tetapi kita tak bias melihatnya. Mengakhiri pernyataannya ia pun mengeaskan kembali bahwa Allah itu ada!
Ada banyak kisah pengalaman beliau dalam menanamkan keimanan kepada Allah kepada anaknya melalui pemahaman yang dapat diterima oleh akal anak. Isi dari halaman 113 tersebut merupakan sebagian dari berbagai isi pembelajaran tersebut. Misalnya untuk memberikan pemahaman bahwa segala benda baik hidup maupun tak bernyawa semua ada dalam aturan Allah Yang Maha Menggerakkan. Dicontohkan dalam sebuah permainan dengan putrinya untuk bermain membuat berantakan seluruh isi kamar. Kamar tersebut lalu dikunci dan kunci tersebut dibawa oleh Illyana. Tanpa sepengetahuan illyana, Purwanto masuk ke kamar dengan kunci cadangan kemudian merapikan barang-barang di dalamnya kembali ke tempatnya. Sang putri datang lalu diajak untuk membuka kamar. Betapa terkejutnya ketika melihat semua barang rapi tertata kembali ke tempat semula. Ia menduga ayahnya yang masuk kemudian merapikan. Ayahnya menjawab bahwa bukan ia yang masuk, bukankah kunci dibawa oleh kamu? Sang putri mengiyakan tetapi ia tak dapat menerima bahwa tidak mungkin semua benda ini bergerak sendiri. Dari sisnilah Purwanto kemudian menjelaskan bahwa guling aja yang kecil tidak mungkin bergerak sendiri bagamana dengan bulan, matahari, bintang yang begitu besar? Lalu siapa yang menggerakkan? ialah Allah. Dalam buku Quantum Teaching karya Bobbi De Potter, contoh pembelajaran yang dilakukan oleh Purwanto tersebut adalah mengambil prinsip pembelajaran quantum yakni, memasuki dunia anak kemudian bawa anak ke dalam dunia kita.

Bagi Anda yang ingin mencoba menerapkan pembelajaran seperti metode di atas, bisa mengambil berbagai referensi bentuk permainan dalam buku ini di halaman 156- 207. Bahasa yang digunakan disajikan mengalir seperti dalam bahasa percakapan karena di dalamnya merupakan hasil pengalaman pribadi penulis dalam menerapkan pemahaman nilai quran kepada anaknya.

Cara membaca buku ini disarankan agar membaca secara berurutan dan tidak melompat dari halaman satu ke halaman lain secara acak. Hal ini agar kita dapat memperoleh gambaran yang jelas dari metode penanaman nilai yang diberikan oleh Ust. Purwanto Abdul Ghaffar sehingga kita dapat menjadi Abi Umi nomor satu dunia dan akherat.

One thought on “Allah itu Ada, Anakku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s